Laman

Jumat, 04 Oktober 2013

pengantar ekonomi pembangunan



BAB I : PENDAHULUAN
1.1       LATAR BELAKANG

Salah satu teori ekonomi pembangunan yang sampai sekarang masih digunakan adalah teori Tabungan dan Investasi oleh Harrod-Domar. Dalam teori ini mencapai kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kalau tabungan dan investasi rendah maka pertumbuhan ekonomi suatu Negara juga akan rendah. Masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal, masalah keterbelakangan adalah masalah kekurangan modal. Kalau ada modal dan modal itu diinvestasikan hasilnya adalah pembangunan ekonomi.

      Dewasa ini banyak negara-negara yang melakukan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan investasi baik domestik ataupun modal asing. Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebab kegiatan investasi akan mendorong pula kegiatan ekonomi suatu negara, penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa atau bahkan penambahan devisa.  Menurut Husnan (1996:5) menyatakan bahwa “proyek investasi merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.”
      Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama. Analisis rencana investasi pada dasarmya merupakan penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (baik besar atau kecil) dapat dilaksanakan dengan berhasil, atau suatu metode penjajakkan dari suatu gagasan usaha/bisnis tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan.Suatu proyek investasi umumnya memerlukan dana yang besar dan akan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu dilakukan perencanaan investasi yang lebih teliti agar tidak terlanjur menanamkan investasi pada proyek yang tidak menguntungkan.


1.2       RUMUSAN MASALAH

1.      Teori apa saja yang mempengaruhi besar kecilnya investasi ?
2.      Bagaimana pembangunan seimbang dan tidak seimbang itu?
3.      Manakah lebih baik investasi sector pertanian dan sector industry?



1.3       Tujuan
1.      Untuk mengetahui teori apa saja yang mempengaruhi besar kecilnya investasi.
2.      Untuk mengetahui pembangunan seimbang dan tidak seimbang itu.
















BAB II : PEMBAHASAN

TEORI PEMBANGUNAN DALAM KAITAN DENGAN INVESTASI

2.1 Teori Dorongan Kuat (Big Push)

                  Teori big push ini didasarkan pada pemikiran Rosenstein-Rodan. Menurut tesis teori ini untuk menanggulangi hambatan pembangunan ekonomi di Negara berkembang dan untuk mendorong ekonomi tersebut kearah kemajuan diperlukan suatu “dorongan kuat” dari investasi atau suatu program besar-besaran yang menyeluruh dalam bentuk suatu jumlah minimum investasi tertentu.
                  Teori ini menyatakan bahwa cara kerja atau kegiatan investasi “sedikit demi sedikit” tidak akan dapat mendorong ekonomi dengan berhasil pada lintasan pembangunan, tetapi suatu jumlah minimum investasi yang besar-besaran merupakan syarat mutlak dalam hal ini. Ia memerlukan terciptanya atau tercapainya ekonomi eksternal, yang timbul pada pembangunan secara serentak atas industry-industri yang secara teknik saling berkaitan satu sama lainnya. Dengan demikian syarat mutlak seperti itu dan terciptanya ekonomi eksternal yang dihasilkan dari sejumlah minimum investasi tertentu tersebut  merupakan prasyarat untuk melancarkan pembangunan ekonomi dengan berhasil.
                  Menurut Rosenstein-Rodan pembangunan industry secara serentak dan besar-besaran ini akan menciptakan tiga macam ekonomi eksternal, yaitu: (a) yang diakibatkan oleh perluasan pasar, (b) karena industry yang sama letaknya dan (c) karena adanya industry lain dalam perekonomian tersebut. Namun demikian, menurut Rosenstein-Rodan ekonomi eksternal yang pertama adalah yang paling penting dibandingkan yang lainnya dalam mendukung pembangunan tersebut.
                  Di samping itu, Rosenstein-Rodan membedakan di antara tiga macam sifat skala dan ekonomi eksternal tersebut yaitu: (a) sifat skala besar di dalam fungsi produksi, terutama dalam hal suplai overhead capital, (b) sifat skala besar dalam kaitan dengan permintaan berupa terciptanya permintaan yang komplementer dan (c) sifat skala besar dalam suplai tabungan.

a.      Sifat Skala Besar Dalam Fungsi Produksi
Menurut Rosenstein-Rodan, skala besar dalam input, output atau proses produksi akan membawa kepada penghasilan yang makin meningkat. Ia menganggap overhead capital sebagai contoh paling penting dari sifat skala besar dan dari ekonomi eksternal pada sisi penawaran.

Jasa dari overhead capital yang terdiri dari industry dan modal dasar seperti prasarana tenaga listrik, transport dan komunikasi adalah secara tidak langsung bersifat produktif dan mmpunyai masa persiapan dan baru memberikan hasil dalam jangka yang lama. Instalasinya tidak dapat diimpor. Pembangunannya membutuhkan investasi dengan modal awal yang besar. Dengan demikian kelebihan kapasitas mungkin akan terjadi selama beberapa waktu yang cukup panjang. Investasi ini juga mencakup paket investasi minimal untuk berbagai bidang pekerjaan umum sedemikian rupa sehingga suatu Negara berkembang harus melakukan investasi pada bidang-bidang ini sebesar 30-40 persen dari total investasinya. Oleh karena itu, investasi pada overhead capital ini harus mendahului investasi-investasi produktif yang secara langsung cepat menghasilkan produksi.

b.      Sifat Skala Besar Dalam Kaitan Dengan Permintaan
Skala besar dari permintaan atau saling melengkapi permintaan di Negara-negara berkembang membutuhkan pendirian secara serentak industry-industri yang saling berkaitan. Maksud pemikiran utamanya adalah karena proyek-proyek investasi secara sendiri-sendiri mempunyai risiko tinggi akibat dari ketidakpastian mengenai apakah produknya akan mendapatkan pasar. Maka keputusan tentang berbagai investasi harus bersifat saling berkaitan dan melengkapi satu dengan lainnya.

Dengan demikian produksi-produksi baru yang dihasilkan itu akan saling menjadi langganan satu dengan lain, sehingga dapat tercipta pasar antarsesamanya bagi barang-barang yang dihasilkan mereka. Saling lengkap-melengkapi dalam permintaan mengurangi risiko dalam mendapatkan pasar dan meningkatkan rangsangan untuk investasi. Dengan kata lain sifat skala besar dan saling melengkapi pada permintaan inilah memerlukan adanya suatu minimum investasi yang besar jumlahnya dalam industry yang saling berkaitan untuk mengatasi kecilnya pasar dan rendahnya dorongan berinvestasi di Negara berkembang tersebut.

c.       Sifat Skala Besar Pada Suplai Tabungan
Elastisitas pendapatan yang tinggi dalam hal menabung merupakan sifat skala besar ketiga dari teori Rosenstein-Rodan. Suatu jumlah minimum yang besar dari investasi memerlukan jumlah tabungan yang besar pula. Ini sangat sulit untuk dicapai di Negara-negara berkembang yang miskin karena sangat rendahnya tingkat pendapatan yang berakibat kecilnya tabungan dalam masyarakat.

Untuk mengatasi hal tersebut, jika pendapatan meningkat sebagai akibat dari peningkatan investasi, maka tingkat tabungan marjinal harus jauh lebih besar dari pada tingkat rata-rata tabungan nasional, hal mana mungkin sekali tidak dapat dicapai di Negara-negara berkembang.

Beberapa Kelemahan Teori “Big Push

Di samping terdapatnya logika dan argumentasi yang dapat membenarkannya, maka terdapat pula berbagai kelemahan teori “dorongan kuat” tersebut, yang penting di antaranya adalah sebagai berikut:

a.       Teori itu mengabaikan investasi di bidang ekspor dan impor pengganti
Dalam hal ini, ekonomi eksternal dari overhead capital relative tidak seberapa pengaruhnya pada bidang ekspor dan impor pengganti yang besar peranannya dalam proses pembangunan.
b.      Mengabaikan ekonomis yang terjadi dari investasi yang mengurangi biaya produksi
Dalam hubungan ini investasi pada bidang-bidang yang cukup inelastic lebih bersifat mengurangi biaya ketimbang yang memperluas output, padahal ini cukup penting.
c.       Mengabaikan atau mengurangi perhatian atas investasi di sector pertanian.
Karena penekanan pada sejumlah minimal investasi bidang pertanian dan sector primer sering kali terabaikan pada pendekatan teori ini.
d.      Menyebabkan timbulnya tekanan inflasioner dan inflasi
Investasi besar di bidang overhead capital dan berbagai bidang industry tertentu sering kali tidak tertampung dengan peningkatan produksi secara proporsional, yang berakibat timbulnya inflasi.
e.       Menyebabkan timbulnya kesulitan administrative dan institusional
Kelengkapan administrative dan kelembagaan untuk menunjang investasi besar-besaran dan saling melengkapi itu sering kali lemah di Negara-negara berkembang.









2.2 Teori Pembangunan Seimbang (Balanced Development)

            Dalam teori keseimbangan (teori ekonomi konvensional), eksternalitas ekonomi diartikan sebagai penghematan atau perbaikan efisiensi yang terjadi pada suatu industry sebagai akibat dari perbaikan teknologi dan kemajuan pada industry lain. Ekternalitas ekonomi seperti ini disebut eksternalitas ekonomi dalam kaitan teknologis (technological external economics).

            Di samping itu hubungan kesalingtergantungan antara sebagai industry bisa pula menciptakan eksternalitas ekonomi yang berkaitan dengan keuangan (pecuniary external economies) yaitu ekonomis atau keuntungan keuangan yang diperoleh suatu perusahaan yang disebabkan oleh tindakan perusahaan lain yang berdampak positif. Dengan kata lain keuntungan suatu perusahaan bukan saja tergantung pada efisiensi penggunaan factor-faktor produksi dan tingkat produksi pada perusahaan itu semata, tetapi juga tergantung kepada penggunaan factor-faktor produksi dan tingkat produksi pada perusahaan-perusahaan lainnya terutama perusahaan-perusahaan yang erat kaitannya dengan perusahaan yang pertama tadi.

            Mekanisme terciptanya eksternalitas ekonomi keuangan tersebut dijelaskan oleh Scitovsky dengan contoh berikut. Jika investasi baru dilakukan untuk suatu industry, maka kapasitasnya akan bertambah. Hal ini bisa menurunkan biaya produksi industry tersebut dan akan menaikkan harga input yang digunakan. Penurunan biaya produksi industry-industri tersebut akan menurunkan harga jual produknya dan ini berarti akan menguntungkan industry-industri lain yang menggunakan produk yang dihasilkan industry tersebut. Sedangkan kenaikan harga inputnya akan menguntungkan industry yang menghasilkan input yang dihasilkannya itu.

            Sementara itu analisi Lewis menunjukkan perlunya pembangunan seimbang yang ditekankan pada keuntungan yang akan diperoleh dari adanya kesalingtergantungan yang efisien antara berbagai sector, yaitu antara sector pertanian dan sector industry, serta antara sector dalam negeri dan sector luar negeri. Tanpa adanya keseimbangan pembangunan antara berbagai sector tersebut akan menimbulkan adanya ketidakstabilan dan gangguan terhadap kelancaran perekonomian sehingga proses pembangunan akan terhambat.

            Lewis menunjukkan pentingnya upaya pembangunan yang menjamin adanya keseimbangan antara sector industry dan sector pertanian. Misalkan di sector pertanian terjadi inovasi-inovasi dalam teknologi produksi bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan domestic, maka akan timbul: (a) surplus di sector pertanian yang dapat dijual ke sector nonpertanian atau (b) produksi tidak bertambah berarti tenaga kerja yang digunakan bertambah sedikit dan jumlah pengangguran bertambah tinggi.
            Jika sector industry mengalami perkembangan yang pesat maka sector tersebut akan dapat menyerap kelebihan produksi bahan pangan maupun kelebihan tenaga kerja dari sector pertanian. Tetapi tanpa adanya perkembangan di sector pertanian maka nilai tukar perdagangan (terms of trade) sector pertanian akan memburuk sebagai akibat dari kelebihan produksi dan tenaga kerja, dan ini akan menimbulkan akibat yang depresif terhadap pendapatan di sekitar pertanian oleh karena itu di sector pertanian tidak terdapat lagi perangsang untuk mengadakan investasi baru dan melakukan inovasi.

            Dengan demikian jika sector pertanian tidak berkembang, maka sector industry juga tidak akan berkembang, dan keuntungan sector industry hanya merupakan bagian yang kecil saja dari pembentukan pendapatan nasional. Oleh karenanya tabungan maupun investasi tingkatnya akan tetap saja rendah. Berdasarkan pada permasalahan dan kelemahan yang mungkin akan timbul jika pembangunan hanya ditekankan pada salah satu sector saja yaitu pertanian atau industry, maka lewis menyimpulkan bahwa, pembangunan haruslah dilakukan secara serentak dan berbarengan di kedua sector tersebut.

            Lewis menunjukkan pula tentang pentingnya pembangunan yang seimbangan antara sector produksi barang-barang untuk kebutuhan domestic dan untuk kebutuhan luar negeri (ekspor). Peranan sector ekspor dalam pembangunan dapat ditunjukkan dengan melihat implikasi dari adanya perkembangan yang tidak seimbang antara sector luar negeri dan sector domestic. Untuk menggambarkan keadaan tersebut, perekonomian dibedakan menjadi 3 sektor yaitu sector pertanian (P), sector industry (I), dan sector ekspor (X).

            Selanjutnya dikemukakan jika I berkembang, permintaan akan barang-barang P akan meningkat jika kenaikan produksi I merupakan substitusi impor maka devisa yang dihemat akan dapat digunakan untuk mengimpor barang-barang P. tetapi kalau bukan barang subsitusi impor, sementara itu sector P tidak berkembang, maka harga P akan naik atau impor akan naik, sehingga terjadi deficit dalam neraca pembayaran.

            Tetapi kalau sector X berkembang, defisit tersebut dapat dihindarkan karena adanya kenaikan impor akan diimbangi oleh pertambahan dalam ekspor. Dengan demikian perkembangan sector I tanpa diikuti oleh perkembangan sektor P akan berlangsung hanya apabila sector X juga mengalami perkembangan.

            Dengan cara yang sama dapat pula ditunjukkan bahwa perkembangan sector P tanpa diikuti perkembangan sector I akan terus berlangsung hanya jika sector X berkembang. Satu-satunya yang dapat berkembang tanpa bantuan perkembangan sector lain adalah sector X. perluasan sector X  memungkinkan suatu Negara untuk mengimpor barang-barang yang dibutuhkannya, jika barang-barang tersebut tidak dapat dihasilkan atau disediakan oleh sector dalam negeri.

            Disamping hal diatas, perkembangan ekspor akan merangsang perkembangan sector domestic, karena ia akan menciptakan permintaan akan barang-barang yang dihasilkan oleh sector domestic tersebut. Perkembangan ekspor ini akan mendorong perkembangan sector domestic juga karena: (a) berbagai fasilitas yang digunakan untuk memperlancar kegiatan ekspor (seperti system komunikasi, transportasi, dan sebagainya) dapat digunakan pula oleh sector domestic, dan (b) dengan menarik tenaga kerja dari sector domestic, maka sector ekspor akan mendorong sector domestic untuk menciptakan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas.

Kelemahan Teori Pembangunan Seimbang

            Beberapa kelemahan atau kekurangan teori Pembangunan Seimbang di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Penerapan teori ini melebihi kemampuan Negara berkembang utnuk melaksanakan karena keterbatasan kemungkinan penyediaan sumber dana serta tenaga ahli dan terampil untuk dapat merealisasikannya.
b.      Membangun secara serempak berbagai macam industry akan dapat meningkatkan biaya dan biaya riil dalam berproduksi, sehingga ini dapat mengakibatkan inefisiensi dan kurang menguntungkan.
c.       Dengan mendirikan industry dan perusahaan baru dalam rangka kegiatan skala besar akan dapat menyebabkan berkurangnya permintaan dan kemunduran pada industry atau perusahaan yang ada sebelumnya.
d.      Tidaklah selalu perlu dilakukan skala besar investasi dalam prose pembangunan, karena banyak pula produksi barang dan jasa dapat dihasilakn secara efisien oleh investasi berskala kecil dalam jumlah banyak.
e.       Konsep pembangunan seimbang terutama berkaitan dengan sector swasta yang kurang membutuhkan perencanaan nasional secara menyeluruh bagi mereka, yang mengharapkan lebih banyak agar kegiatan ekonomi diserahkan saja pada mekanisme pasar. Sedangkan investasi serentak pada semua sector memerlukan perencanaan, pengarahan dan koordinat secara menyeluruh oleh pemerintah.













2.3 Teori Pembangunan Tidak Seimbang (Unbalanced Development)

            Teori pembanguan tidak seimbang ini dikemukakan oleh Hirschman dan Streeten. Menurut mereka, pembangunan tidak seimbang adalah pola dengan system pembangunan yang lebih cocok untuk mempercepat proses pembangunan di Negara-negara berkembang.

            Pola pembangunan tidak seimbang, menurut Hirschman, adalah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan: (a) secara historis pembangunan ekonomi yang terjadi coraknya memang tidak seimbang, (b) untuk mempertinggi terciptanya efisiensi penggunaan sumber-sumber daya yang tersedia, dan (c) pembangunan tidak seimbang akan menimbulkan kemacetan-kemacetan atau gangguan-gangguan dalam proses pembangunan namun akan dapat mejadi pendorong (tantangan) bagi pembangunan tahap selanjutnya.

            Pembangunan tidak seimbang ini juga dianggap lebih sesuai untuk dilaksanakan di Negara berkembang karena Negara-negara tersebut mengahadapi masalah kekurangan sumber dana dan daya. Dengan melaksanakan program pembangunan tidak seimbang maka usaha pembangunan pada suatu periode waktu tertentu dipusatkan pada beberapa sector yang akan mendorong penanaman modal yang terpengaruh (induced investment) di berbagai sector pada period waktu berikutnya. Oleh karena itu, sumber-sumber dana dan daya yang sangat langka itu akan dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien pada setiap tahap pembangunan.

            Strategi yang digunakan dalam system pembangunan tidak seimbang adalah bagaimana caranya untuk menentukan proyek yang harus didahulukan atau diprioritaskan pembangunannya, di mana proyek-proyek tersebut memerlukan modal dan sumber daya lainnya melebihi modal serta sumber dana dan daya yang tersedia agar penggunaan berbagai sumber dana dan daya yang tersedia tersebut bisa lebih efisien dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang maksimal.

            Cara pengalokasian sumber dana dan daya tersebut dibedakan menjadi dua, yaitu cara pilihan pengganti (substitution choices) dan cara pilihan penundaan (postponement choices). Cara yang pertama merupakan suatu cara pemilihan proyek yang bertujuan untuk menentukan apakah proyek A atau diganti dengan proyek B yang harus diprogramkan dan harus dilaksanakan. Sedangkan cara yang kedua merupakan suatu cara pemilihan yang menentukan urutan proyek yang akan dilaksanakan yaitu menentukan apakah proyek A ataukah proyek B yang harus didahulukan.

            Menurut Hirschman, dalam sector produktif mekanisme dorongan pembangunan (inducement mechanism) yang tercipta sebagai akibat dari adanya hubungan antara berbagai industry dalam menyediakan barang-barang yang digunakan sebagai bahan mentah dalam industry lainnya dibedakan menjadi dua macam yaitu pengaruh keterkaitan ke belakang (backward linkage effects) dan pengaruh keterkaitan ke depan (forward linkage effect). Pengaruh keterkaitan ke belakang maksudnya adalah tingkat rangsangan yang diciptakan oleh pembangunan suatu industry terhadap perkembangan industry-industri yang menyediakan input (bahan baku) bagi industry tersebut. Sedangkan pengaruh keterkaitan ke depan adalah tingkat rangsangan yang diciptakan oleh pembangunan suatu industry tertentu terhadap perkembangan industry-industri yang menggunakan produk industry yang pertama sebagai input (bahan baku) bagi mereka.

Berdasarkan kepada besarnya tingkat keterkaitan antarindustri, berbagai industry dikelompokkan oleh Hirschman ke dalam dua golongan yaitu industry satelit (satellite industry) dan industry non-satelit (non-satellite industry).

Contoh industry satelit adalah industry ban mobil dan industry karoseri yang merupakan industry satelit dari industry mobil. Sedangkan industry nonsatelit adalah industry mobil dalam kaitannya dengan industry minuman ringan.

Karateristik industry satelit adalah:
a.       Lokasinya berdekatan dengan industry induk (utama) sehingga akan mempertinggi efisiensi kegiatannya.
b.      Industry-industri tersebut menggunakan input utamanya berasal dari produk industry induk (utama) atau industry tersebut menghasilkan barang yang merupakan input dari industry induk tetapi bukan merupakan input utama.
c.       Besarnya skala industry tersebut tidak melebihi industry induknya.

Kedua golongan industry tersebut bisa dirangsang perkembangannya karena adanya keterkaitan ke belakang atau ke depan yang disebabkan oleh pengembangan suatu industri utama. Sebagai ilustrasi, apabila pembangunan industry mobil mendorong perkembangan industry ban mobil, hal ini merupakan pengaruh keterkaitan ke belakang. Sedangkan jika industry mobil mendorong perkembangan industry karoseri maka ini merupakan pengaruh keterkaitan ke depan.

Pembangunan suatu industry induk akan menciptakan dorongan bagi perkembangan industry satelit maupun industry nonsatelit. Tetapi yang paling banyak memperoleh dorongan adalah industry satelit. Pertumbuhan suatu industry utama pasti akan mendorong perkembangan industry-industri satelitnya. Sedangkan industry non-satelit baru akan terdorong perkembangannya jika beberapa industry yang menggunakan produknya berkembang secara bersama-sama atau berbarengan sehingga menciptakan pasar yang cukup besar untuk hasil industry nonsatelit tersebut.

Kelemahan Teori Pembangunan Tidak Seimbang

      Beberapa kelemahan atau kekurangan teori Pembangunan Tidak Seimbang di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Teori ini kurang perhatiannya pada komposisi, arah dan saat berjalannya pembangunan tidak seimbang, yang akan dapat mencapai ketidakseimbangan yang optimum dalam perekonomian keseluruhannya.
b.      Mengabaikan kemungkinan perlawanan atau reaksi dari berbagai kelembagaan masyarakat dan pelaku bisnis yang medapat perlakuan yang dianggap mereka merugikan.
c.       Kekurangan mobilitas berbagai factor dan sumber internal di Negara berkembang dalam menunjang pembangunan, karena dalam pemindahannya sering kali ditemukan hambatan-hambatan structural, prasarana dan social-budaya.
d.      Dampak keterkaitan yang diperkirakan sering kali kurang di dasarkan pada fakta yang terdapat di Negara berkembang, karena penyediaan prasarana ekonomi dan social yang tersedia (terbatas) tidak mampu mendukung program/proyek pembangunan yang dilakukan.
e.       Teori ini terlalu banyak menekankan kepada keputusan investasi semata sedangkan di Negara-negara berkembang, keputusan-keputusan administrative, manajemen dan kebijakan sering kali banyak pula menentukan keberhasilan pembangunan.





BAB III : PENUTUP

3.1         KESIMPULAN

Pembahasan teori pembangunan dalam kaitan dengan investasi dibatasi disini pada teori-teori utama, yaitu:
1.      Teori dorongan kuat (Big Push)
Teori ini menyatakan bahwa cara kerja atau kegiatan investasi “sedikit demi sedikit” tidak akan dapat mendorong ekonomi dengan berhasil pada lintasan pembangunan, tetapi suatu jumlah minimum investasi yang besar-besaran merupakan syarat mutlak dalam hal ini.
2.      Teori Pembangunan Seimbang (Balanced Development)
Dalam teori keseimbangan, eksternalitas ekonomi diartikan sebagai penghematan atau perbaikan efisiensi yang terjadi pada suatu industry sebagai akibat dari perbaikan teknologi dan kemajuan pada industry lain.
3.      Teori Pembangunan Tidak Seimbang (Unbalanced Development)
Teori pembangunan tidak seimbang ini dikemukan oleh Hirschman, menurut mereka, pembangunan tidak seimbang adalah pola dengan system pembangunan yang lebih cocok untuk mempercepat proses pembangunan di Negara-negara berkembang. Pembangunan tidak seimbang ini juga dianggap lebih sesuai untuk dilaksanakan Negara berkembang karena Negara-negara tersebut menghadapi masalah kekurangan sumber dana dan daya.

3.2         DAFTAR PUSTAKA

Ø  Arsyad, Lincoln, Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Penerbit STIE-YKPN, 1992.
Ø  Jbingan, M.L., Ekonomi Perencanaan dan Pembangunan (terjemahan). Jakarta: Rajawali, 1992.
Ø  Kamaluddin, Rustian, Ekonomi Pembangunan (Diktat Kuliah). Padang: Kantor Pusat Universitas Andalas, 1976.
Ø  Sukirno, Sadono, Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijaksanaan. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI, 1985.

Sabtu, 02 Juni 2012

Fungsi Pengorganisasian


Definisi dan Komponen Organisasi

Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda.Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut :

1.      Organisasi Menurut Stoner. Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
2.      Organisasi Menurut James D. Mooney. Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3.      Organisasi Menurut Chester I. Bernard
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

Pengertian organisasi
Organisasi adalah wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama dan merealisasikan tujuanya.
Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. (James L. Gibson, 1986).
Pada dasarnya orang tidak bisa hidup sendiri. Sebagian besar tujuannya dapat terpenuhi apabila ada interaksi sosial dengan orang lain. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri karena manusia memiliki kebutuhan terhadap manusia lainnya. Karena itulah biasanya manusia berkumpul dan membentuk kelompok, yang disebut dengan organisasi. Karang Taruna, perusahaan, kerajaan, negara, adalah bentuk-bentuk dari organisasi. Bahkan sebuah organisasi kejahatan pun pada dasarnya juga adalah sebuah organisasi, dimana mereka bergabung dan berkumpul karena memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Organisasi yang paling kecil yang kerap kita jumpai adalah keluarga. Keluarga pada hakikatnya adalah sebuah organisasi. Keluarga adalah satuan organisasi terkecil yang pertama  kali dikenal oleh setiap manusia.
Banyak motivasi yang mendorong seseorang masuk dalam sebuah organisasi. Diantara beberapa motivasi atau tujuan seseorang bergabung ke dalam suatu kelompok organisasi adalah :

1.      Kelompoks atau organisasi sering dipakai untuk memecahkan masalah-masalah.
2.      Mencegah kesepian dan kerenggangan
3.      Kelompok dapat memberikan bantuan pada saat kesusahan / menjumpai masalah
4.      Kelompok dapat memberikan tujuan dan nilai hidup yang lebih baik, perilaku, dan kesetaraan kelompok
5.      Kelompok sosial , kerja dan bermacam-macam kelompk lainnya memberikan prestige, status dan pengakuan.

STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan meninjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain daripada itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.
Struktur Organisasi sangat penting untuk dapat dipahami oleh semua komponen dalam rangka menciptakan sistem kerja yang efektif dan efesien. Struktur organisasi merupakan deskripsi bagaimana organisasi membagi pekerjaan dan melaksanakan tugas atau pekerjaannya dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Struktur organisasi juga mengatur siapa yang melaksanakan tugas dan pekerjaan itu. Selain membagi dan mengatur tugas dan pekerjaan yang diemban oleh organisasi, struktur organisasi juga menggambarkan hubungan organisasi secara internal maupun eksternal.

Elemen struktur organisasi
Ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak mendesain struktur, antara lain.
  • Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.
  • Departementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.
  • Rantai komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.
  • Rentang kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.
  • Sentralisasi dan Desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.
  • Formalisasi. Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.
Desain organisasi yang umum
Struktur sederhana
Struktur sederhana adalah sebuah struktur yang dicirikan dengan kadar departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang terpusat pada seseorang saja, dan sedikit formalisasi. Struktur sederhana paling banyak dipraktikkan dalam usaha-usaha kecil di mana manajer dan pemilik adalah orang yang satu dan sama. Kekuatan dari struktur ini adalah kesederhanaannya yang tercermin dalam kecepatan, kefleksibelan, ketidakmahalan dalam pengelolaan, dan kejelasan akuntabilitas. Satu kelemahan utamanya adalah struktur ini sulit untuk dijalankan di mana pun selain di organisasi kecil karena struktur sederhana menjadi tidak memadai tatkala sebuah organisasi berkembang karena formalisasinya yang rendah dan sentralisasinya yang tinggi cenderung menciptakan kelebihan beban (overload) di puncak.
Birokrasi
Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit, dan pengambilan keputusan yang mengikuti rantai komando.
Kekuatan utama birokrasi ada kemampuannya menjalankan kegiatan-kegiatan yang terstandar secara sangat efisien, sedangkan kelemahannya adalah dengan spesialisasi yang diciptakan bisa menimbulkan konflik-konflik subunit, karena tujuan-tujuan unit fungsional dapat mengalahkan tujuan keseluruhan organisasi. Kelemahan besar lainnnya adalah ketika ada kasus yang tidak sesuai sedikit saja dengan aturan, tidak ada ruang untuk modifikasi karena birokrasi hanya efisien sepanjang karyawan menghadapi masalah yang sebelumnya telah mereka hadapi dan sudah ada aturan keputusan terprogram yang mapan.


Struktur matriks
Struktur matriks adalah sebuah struktur yang menciptakan garis wewenang ganda dan menggabungkan departementalisasi fungsional dan produk. Struktur matriks dapat ditemukan di agen-agen periklanan, perusahaan pesawat terbang, laboratorium penelitian dan pengembangan, perusahaan konstruksi, rumah sakit, lembaga-lembaga pemerintah, universitas, perusahaan konsultan manajemen, dan perusahaan hiburan.Pada hakikatnya, struktur matriks menggabungkan dua bentuk departementalisasi: fungsional dan produk. Kekuatan departementalisasi fungsional terletak, misalnya, pada penyatuan para spesialis, yang meminimalkan jumlah yang diperlukan sembari memungkinkan pengumpulan dan pembagian sumber daya khusus untuk keseluruhan produk. Kelemahan terbesarnya adalah sulitnya mengoordinasi tugas para spesialis fungsional yang beragam agar kegiatan mereka rampung tepat waktu dan sesuai anggaran. Departementalisasi produk, di lain pihak, memiliki keuntungan dan kerugian yang berlawanan. Departementalisasi ini memudahkan koordinasi di antara para spesialis untuk menyelesaikan tugas tepat waktu dan memenuhi target anggaran. Lebih jauh, departementalisasi ini memberikan tanggung jawab yang jelas atas semua kegiatan yang terkait dengan sebuah produk, tetapi dengan duplikasi biaya dan kegiatan.Matriks berupaya menarik kekuatan tersebut sembari menghindarkan kelemahan-kelemahan mereka.
Karakteristik struktural paling nyata dari matriks adalah bahwa ia mematahkan konsep kesatuan komando sehingga karyawan dalam struktur matriks memiliki dua atasan -manajer departemen fungsional dan manajer produk. Karena itulah matriks memiliki rantai komando ganda.
Desain Struktur Organisasi Modern
Struktur tim
Struktur tim adalah pemanfaatan tim sebagai perangkat sentral untuk mengoordinasikan kegiatan-kegiatan kerja. Karakteristik utama struktur tim adalah bahwa struktr ini meniadakan kendala-kendala departemental dan mendesentralisasi pengambilan keputusan ke tingkat tim kerja. Struktur tim juga mendorong karyawan untuk menjadi generalis sekaligus spesialis.

Organisasi virtual
Organisasi virtual adalah organisasi inti kecil yang menyubkontrakkan fungsi-fungsi utama bisnis secara detail.

Organisasi Nirbatas
Organisasi nirbatas adalah sebuah organisasi yang berusaha menghapuskan rantai komando, memiliki rentang kendali tak terbatas, dan mengganti departemen dengan tim yang diberdayakan.

Model desain struktur organisasi
Ada dua model ekstrem dari desain organisasi.
  • Model mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan sentralisasi.
  • Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hierarki dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.
  • Model Piramid,model ini di buat persis sebuah piramida.
  • Model Horizontal,Model ini dibuat dengan manarik garis lurus secara horizontal dengan pembagian funsional masing-masing bersama tugasnya masi-masing
Faktor penentu struktur organisasi
Sebagian organisasi terstruktur pada garis yang lebih mekanistis sedangkan sebagian yang lain mengikuti karakteristik organik. Berikut adalah faktor-faktor utama yang diidentifikasi menjadi penyebab atau penentu struktur suatu organisasi:
Strategi
Struktur organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya. Karena sasaran diturunkan dari strategi organisasi secara keseluruhan, logis kalau strategi dan struktur harus terkait erat. tepatnya, struktur harus mengikuti strategi. Jika manajemen melakukan perubahan signifikan dalam strategi organisasinya, struktur pun perlu dimodifikasi untuk menampung dan mendukung perubahan ini. Sebagian besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi -inovasi, minimalisasi biaya, dan imitasi- dan pada desain struktur yang berfungsi dengan baik untuk masing-masing dimensi.
Strategi inovasi adalah strategi yang menekankan diperkenalkannya produk dan jasa baru yang menjadi andalan. Strategi minimalisasi biaya adalah strategi yang menekankan pengendalian biaya secara ketat, menghindari pengeluaran untuk inovasi dan pemasaran yang tidak perlu, dan pemotongan harga. Strategi imitasi adalah strategi yang mencoba masuk ke produk-produk atau pasar-pasar baru hanya setelah viabilitas terbukti.
Ukuran organisasi
Terdapat banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara signifikan memengaruhi strukturnya. Sebagai contoh, organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan 2.000 orang atau lebih cenderung memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi, tingkatan vertikal, serta aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil. Namun, hubungan itu tidak bersifat linier. Alih-alih, ukuran memengaruhi struktur dengan kadar yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi kurang penting saat organisasi meluas.

Teknologi
Istilah teknologi mengacu pada cara sebuah organisasi mengubah input menjadi output.  Setiap organisasi paling tidak memiliki satu teknologi untuk mengubah sumber daya finansial, SDM, dan sumber daya fisik menjadi produk atau jasa.

Lingkungan
Lingkungan sebuah organisasi terbentuk dari lembaga-lembaga atau kekuatan-kekuatan di luar organisasi yang berpotensi memengaruhi kinerja organisasi. Kekuatan-kekuatan ini biasanya meliputi pemasok, pelanggan, pesaing, badan peraturan pemerintah, kelompok-kelompok tekanan publik, dan sebagainya.
Struktur organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya karena lingkungan selalu berubah. Beberapa organisasi menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak kekuatan di lingkungan mereka yang berubah. Misalnya, tidak muncul pesaing baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaing saat ini, atau tidak banyak aktivitas dari kelompok-kelompok tekanan publik yang mungkin memengaruhi organisasi. Organisasi-organisasi lain menghadapi lingkungan yang sangat dinamis -peraturan pemerintah cepat berubah dan memengaruhi bisnis mereka, pesaing baru, kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, preferensi pelanggan yang terus berubah terhadap produk, dan semacamnya. Secara signifikan, lingkungan yang statis memberi lebih sedikit ketidakpastian bagi para manajer dibanding lingkungan yang dinamis. Karena ketidakpastian adalah sebuah ancaman bagi keefektifan sebuah organisasi, manajemen akan menocba meminimalkannya. Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan adalah melalui penyesuaian struktur organisasi.
Pembagian kerja
Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike.
Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
Berikut ini ada beberapa dasar yang dapat dijadikan pedoman untuk mengadakan pembagian kerja. Pedoman-pedoman tersebut adalah:
  1. Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya wilayah timur, barat atau wilayah kecamatan, kabupaten dan lain sebagainya.
  2. Pembagian kerja atas dasar jenis benda yang diproduksi, misalnya pada komponen suatu kendaraan, bagian pemasangan jok mobil, pemasangan rem mobil dan lainnya.
  3. Pembagian kerja atas dasar langganan yang dilayani, misalnya adalah langganan secara individual atau kelompok, pemerintahan atau non pemerintahan dan sebagainya.
  4. Pembagian kerja atas dasar fungsi (rangkaian) kerja, misalnya bagian produksi, bagian gudang, bagian pengiriman dan lainnya.
  5. Pembagian kerja atas dasar waktu, misalnya shif kerja pagi, siang dan malam.
Dari hal tersebut diatas maka akan tergambar atau terlihat pembagian kerja di dalam suatu organisasi, yakni:
  • Jumlah unit organisasi yang ada akan disesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi tersebut.
  • Suatu unit organisasi ini harus mempunyai fungsi bulat dan berkaitan dengan yang lainnya.
  • Pembentukan unit baru hanya dilaksanakan bilamana unit yang ada sudah tidak tepat lagi untuk menampung kegiatan yang baru baik dari beban kerja maupun hubungan kerja.
  • Secara garis besar akan berpengaruh pada aktifitas dan sifat dari organisasi tersebut.

BADAN ORGANISASI













DEPARTEMENTALISASI

1.      Pengertian Departementalisasi

      
Departementalisasi adalah proses penentuan cara bagaimana kegiatan yang dikelompokkan. Beberapa bentuk departementalisasi sebagai berikut :
1. Fungsi
2. Produk atau jasa
3. Wilayah
4. Langganan
5. Proses atau peralatan
6. Waktu
7. Pelayanan
8. Alpa – numeral
9. Proyek atau matriks

2. Departementalisasi Fungsional

             
Departentalisasi fungsional mengelompokkan fungsi – fungsi yang sama atau kegiatan – kegiatan sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi.
Organisasi fungsional ini barangkali merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar departementalisasi. kebaikan utama pendekatan fungsional adalah bahwa pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi- funsi utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi, memusatkan keahlian organisasi dan memungkinkan pegawai manajemen kepuncak lebih ketat terhadap fungsi-fungsi.
pendekatan fungsional mempunyai berbagi kelemahan. struktur fungsional dapat menciptakan konflik antar fungsi-fungsi, menyebabkan kemacetan-kemacetan pelaksanaan tugas yang berurutan pada kepentingan tugas-tugasnya, dan menyebabkan para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inofatif.

3 .
Departementalisasi Divisional

             
Organisasi Divisional dapat mengikuti pembagian divisi-divisi atas dasar produk, wilayah (geografis), langganan, dan proses atau peralatan.
Struktur organisasi divisional atas dasar produk. setiap departemen bertanggung jawab atas suatu produk atau sekumpulan produk yang berhubungan (garis produk). Divisionalisasi produk adalah pola logika yang dapat diikuti bila jenis-jenis produk mempunyai teknologi pemrosesan dan metoda-metoda pemasaran yang sangat berbeda satu dengan yang lain dalam organisasi.
Sturktur organisasi divisional atas dasar wilayah. Departementalisasi wilayah , kadang-kadang juga disebut depertementalisasi daerah , regional atau geografis , adalah pengelompokkan kegiatan-kegiatan menurut tempat dimana operasi berlokasi atau dimana satuan-satuan organisasi menjalankan usahanya.Kebaikan-kebaikan struktur organisasi divisional dapat diperinci sebagai berikut :

1.  Meletakkan koordinasi dan wewenang yang diperlukan pada tingkat yang sesuai bagi pemberian tanggapan yang cepat.
2.  Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan lingkungan divisi yang khas.
3.  Tempat latihan yang baik bagi para manager strategik.

Kelemahah-kelemahan sturktur divisional secara lebih terperinci :
1. Masalah duplikasi sumberdaya dan peralatan yang tidak perlu.
2. Dapat menimbulkan tidak konsistennya kebijakan antara divisi-divisi

            Perusahaan yang melakukan departentalisasi diuntungkan dengan pembagian control dan koordinasi pada perusahaan tersebut. Wilayah kekuasaan dan tanggung jawab dipersempit sehingga untuk memimpinnya menjadi lebih mudah
.

    Departementalisasi sendiri dibagi atas beberapa macam yaitu :

1.      Departementalisasi berdasarkan pelanggan
Maksudnya perusahaan akan melakukan pembagian penjualan produk ke pelanggan,biasanya ada yang bagian produk laki-laki ataupun perempuan atau tua dan muda. Contohnya adalah pembagian penjualan produk Rexona ada pembagian untuk produk remaja, laki-laki , perempuan ataupun yang xtra berkeringat. Dengan dilakukannya pembagian ini penjualan akan lebih tepat sasaran dan efisien
2.      Departementalisasi berdasarkan produk
Maksudnya perusahaan akan mengelompokan departemen sesuai dengan kelompok produk yang dihasilkan misalkannya pembagian departeman barang untuk mengurusi produksi produk berupa barang dan departemen jasa untuk menangani produk yang berupa jasa
3.      Departementalisasi berdasarkan proses                                                                                Maksudnya pembagian departemen berdasrkan proses pengkerjaannya, misalnya pada perusahaan meubel dibagi atas divisi untuk pengolahan kayu mentah, divisi pembuatan kursi atau meubel kemudian divisi pengecatan
4.   Departementalisasi berdasarkan geografis
Maksudnya pembagian departeman berdasarkan lokasi penjualan produk misalnya departemen yang mengawasi di jawa dan Bali, di Kalimantan maupun di Sumatara.
5.      Departementalisasi berdasarkan fungsi
Maksudnya pembagian departemann berdasarkan aktifitas perusahaan dalam menjalankan bisnisnya, misalnya departemen produksi, departemen penjualan, departemen pemasaran dan lain-lain
Setelah melakukan pembagian tugas, maka yang harus dilakukan adalah menetapkan hierarki pengambilan keputusan. Bagaimana dalam perusahaan perusahaan yang besar diperlukan cara penentuan pengambilaan keputusan karena tidak mungkin seorang presiden direktur melakukan pengambilan keputusan pada suatu masalah di cabang daerah. Oleh sebab itu maka dibentuklah tingkatan-tingkatan pada organisasi yang mana di tiap tingkatan tersebut terdapat seorang manajer yang dapat memberikan keputusan dan dapat bertanggung jawab kepada pemimpin di atasnya. Sehingga para menajer tersebut memiliki kewenagan untuk melakukan tugas atau misi yang direncanakan oleh organisasi atau perusahaan namun manajer tersebut juga boleh melakukan inovasi-inovasi agar divisi dipimpinnya dapat berkembang dengan syarat harus sesuia dengan misi perusahaan, misalnya BNI 46 mempunyai bebarapa manajer yang mengawasi divisinya. Ada yang mengurusi cabang provinsi maupun cabang-cabang pada kota maupun kabupaten setiap manajer di kota tersebut memiliki kekuasaan untuk memutuskan apabila ada masalah dalam cabang tersebut namun apabila masalah tersebut terlalu besar (berdasarkan survey yang saya lakukan waktu semester lalu) dapat dilaporkan ke pusat misalnya adalah peminjaman uang yang terlalu besar. Maka manajer cabang akan menghubungi kantor cabang provinsi atau pusat terlebih dahulu
Selain itu untuk melakukan pengorganisasian yang baik diperlukan komunikasi yang baik antar kantor cabang di adakan rapat antar kantor cabang yang membicarakan masalah-masalah yang ada pada tiap divisi maupun pada kantor cabang selain itu pada rapat ini sebagai tempat untuk memberiakan pengarahan ataupun misi kepada para manajer pimpinan cabang maupun divisi untuk dapat mengembangkan divisi atau cabangnya.

Definisi dan Komponen Organisasi

Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda.Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut :

1.      Organisasi Menurut Stoner. Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
2.      Organisasi Menurut James D. Mooney. Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3.      Organisasi Menurut Chester I. Bernard
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

Pengertian organisasi
Organisasi adalah wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama dan merealisasikan tujuanya.
Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. (James L. Gibson, 1986).
Pada dasarnya orang tidak bisa hidup sendiri. Sebagian besar tujuannya dapat terpenuhi apabila ada interaksi sosial dengan orang lain. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri karena manusia memiliki kebutuhan terhadap manusia lainnya. Karena itulah biasanya manusia berkumpul dan membentuk kelompok, yang disebut dengan organisasi. Karang Taruna, perusahaan, kerajaan, negara, adalah bentuk-bentuk dari organisasi. Bahkan sebuah organisasi kejahatan pun pada dasarnya juga adalah sebuah organisasi, dimana mereka bergabung dan berkumpul karena memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Organisasi yang paling kecil yang kerap kita jumpai adalah keluarga. Keluarga pada hakikatnya adalah sebuah organisasi. Keluarga adalah satuan organisasi terkecil yang pertama  kali dikenal oleh setiap manusia.
Banyak motivasi yang mendorong seseorang masuk dalam sebuah organisasi. Diantara beberapa motivasi atau tujuan seseorang bergabung ke dalam suatu kelompok organisasi adalah :

1.      Kelompoks atau organisasi sering dipakai untuk memecahkan masalah-masalah.
2.      Mencegah kesepian dan kerenggangan
3.      Kelompok dapat memberikan bantuan pada saat kesusahan / menjumpai masalah
4.      Kelompok dapat memberikan tujuan dan nilai hidup yang lebih baik, perilaku, dan kesetaraan kelompok
5.      Kelompok sosial , kerja dan bermacam-macam kelompk lainnya memberikan prestige, status dan pengakuan.

STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi adalah susunan komponen-komponen (unit-unit kerja) dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan meninjukkan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan-kegiatan yang berbeda-beda tersebut diintegrasikan (koordinasi). Selain daripada itu struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah dan penyampaian laporan.
Struktur Organisasi sangat penting untuk dapat dipahami oleh semua komponen dalam rangka menciptakan sistem kerja yang efektif dan efesien. Struktur organisasi merupakan deskripsi bagaimana organisasi membagi pekerjaan dan melaksanakan tugas atau pekerjaannya dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Struktur organisasi juga mengatur siapa yang melaksanakan tugas dan pekerjaan itu. Selain membagi dan mengatur tugas dan pekerjaan yang diemban oleh organisasi, struktur organisasi juga menggambarkan hubungan organisasi secara internal maupun eksternal.

Elemen struktur organisasi
Ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak mendesain struktur, antara lain.
  • Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.
  • Departementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.
  • Rantai komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak organisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.
  • Rentang kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.
  • Sentralisasi dan Desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.
  • Formalisasi. Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.
Desain organisasi yang umum
Struktur sederhana
Struktur sederhana adalah sebuah struktur yang dicirikan dengan kadar departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang terpusat pada seseorang saja, dan sedikit formalisasi. Struktur sederhana paling banyak dipraktikkan dalam usaha-usaha kecil di mana manajer dan pemilik adalah orang yang satu dan sama. Kekuatan dari struktur ini adalah kesederhanaannya yang tercermin dalam kecepatan, kefleksibelan, ketidakmahalan dalam pengelolaan, dan kejelasan akuntabilitas. Satu kelemahan utamanya adalah struktur ini sulit untuk dijalankan di mana pun selain di organisasi kecil karena struktur sederhana menjadi tidak memadai tatkala sebuah organisasi berkembang karena formalisasinya yang rendah dan sentralisasinya yang tinggi cenderung menciptakan kelebihan beban (overload) di puncak.
Birokrasi
Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit, dan pengambilan keputusan yang mengikuti rantai komando.
Kekuatan utama birokrasi ada kemampuannya menjalankan kegiatan-kegiatan yang terstandar secara sangat efisien, sedangkan kelemahannya adalah dengan spesialisasi yang diciptakan bisa menimbulkan konflik-konflik subunit, karena tujuan-tujuan unit fungsional dapat mengalahkan tujuan keseluruhan organisasi. Kelemahan besar lainnnya adalah ketika ada kasus yang tidak sesuai sedikit saja dengan aturan, tidak ada ruang untuk modifikasi karena birokrasi hanya efisien sepanjang karyawan menghadapi masalah yang sebelumnya telah mereka hadapi dan sudah ada aturan keputusan terprogram yang mapan.


Struktur matriks
Struktur matriks adalah sebuah struktur yang menciptakan garis wewenang ganda dan menggabungkan departementalisasi fungsional dan produk. Struktur matriks dapat ditemukan di agen-agen periklanan, perusahaan pesawat terbang, laboratorium penelitian dan pengembangan, perusahaan konstruksi, rumah sakit, lembaga-lembaga pemerintah, universitas, perusahaan konsultan manajemen, dan perusahaan hiburan.Pada hakikatnya, struktur matriks menggabungkan dua bentuk departementalisasi: fungsional dan produk. Kekuatan departementalisasi fungsional terletak, misalnya, pada penyatuan para spesialis, yang meminimalkan jumlah yang diperlukan sembari memungkinkan pengumpulan dan pembagian sumber daya khusus untuk keseluruhan produk. Kelemahan terbesarnya adalah sulitnya mengoordinasi tugas para spesialis fungsional yang beragam agar kegiatan mereka rampung tepat waktu dan sesuai anggaran. Departementalisasi produk, di lain pihak, memiliki keuntungan dan kerugian yang berlawanan. Departementalisasi ini memudahkan koordinasi di antara para spesialis untuk menyelesaikan tugas tepat waktu dan memenuhi target anggaran. Lebih jauh, departementalisasi ini memberikan tanggung jawab yang jelas atas semua kegiatan yang terkait dengan sebuah produk, tetapi dengan duplikasi biaya dan kegiatan.Matriks berupaya menarik kekuatan tersebut sembari menghindarkan kelemahan-kelemahan mereka.
Karakteristik struktural paling nyata dari matriks adalah bahwa ia mematahkan konsep kesatuan komando sehingga karyawan dalam struktur matriks memiliki dua atasan -manajer departemen fungsional dan manajer produk. Karena itulah matriks memiliki rantai komando ganda.
Desain Struktur Organisasi Modern
Struktur tim
Struktur tim adalah pemanfaatan tim sebagai perangkat sentral untuk mengoordinasikan kegiatan-kegiatan kerja. Karakteristik utama struktur tim adalah bahwa struktr ini meniadakan kendala-kendala departemental dan mendesentralisasi pengambilan keputusan ke tingkat tim kerja. Struktur tim juga mendorong karyawan untuk menjadi generalis sekaligus spesialis.

Organisasi virtual
Organisasi virtual adalah organisasi inti kecil yang menyubkontrakkan fungsi-fungsi utama bisnis secara detail.

Organisasi Nirbatas
Organisasi nirbatas adalah sebuah organisasi yang berusaha menghapuskan rantai komando, memiliki rentang kendali tak terbatas, dan mengganti departemen dengan tim yang diberdayakan.

Model desain struktur organisasi
Ada dua model ekstrem dari desain organisasi.
  • Model mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan sentralisasi.
  • Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hierarki dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.
  • Model Piramid,model ini di buat persis sebuah piramida.
  • Model Horizontal,Model ini dibuat dengan manarik garis lurus secara horizontal dengan pembagian funsional masing-masing bersama tugasnya masi-masing
Faktor penentu struktur organisasi
Sebagian organisasi terstruktur pada garis yang lebih mekanistis sedangkan sebagian yang lain mengikuti karakteristik organik. Berikut adalah faktor-faktor utama yang diidentifikasi menjadi penyebab atau penentu struktur suatu organisasi:
Strategi
Struktur organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya. Karena sasaran diturunkan dari strategi organisasi secara keseluruhan, logis kalau strategi dan struktur harus terkait erat. tepatnya, struktur harus mengikuti strategi. Jika manajemen melakukan perubahan signifikan dalam strategi organisasinya, struktur pun perlu dimodifikasi untuk menampung dan mendukung perubahan ini. Sebagian besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi -inovasi, minimalisasi biaya, dan imitasi- dan pada desain struktur yang berfungsi dengan baik untuk masing-masing dimensi.
Strategi inovasi adalah strategi yang menekankan diperkenalkannya produk dan jasa baru yang menjadi andalan. Strategi minimalisasi biaya adalah strategi yang menekankan pengendalian biaya secara ketat, menghindari pengeluaran untuk inovasi dan pemasaran yang tidak perlu, dan pemotongan harga. Strategi imitasi adalah strategi yang mencoba masuk ke produk-produk atau pasar-pasar baru hanya setelah viabilitas terbukti.
Ukuran organisasi
Terdapat banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara signifikan memengaruhi strukturnya. Sebagai contoh, organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan 2.000 orang atau lebih cenderung memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi, tingkatan vertikal, serta aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil. Namun, hubungan itu tidak bersifat linier. Alih-alih, ukuran memengaruhi struktur dengan kadar yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi kurang penting saat organisasi meluas.

Teknologi
Istilah teknologi mengacu pada cara sebuah organisasi mengubah input menjadi output.  Setiap organisasi paling tidak memiliki satu teknologi untuk mengubah sumber daya finansial, SDM, dan sumber daya fisik menjadi produk atau jasa.

Lingkungan
Lingkungan sebuah organisasi terbentuk dari lembaga-lembaga atau kekuatan-kekuatan di luar organisasi yang berpotensi memengaruhi kinerja organisasi. Kekuatan-kekuatan ini biasanya meliputi pemasok, pelanggan, pesaing, badan peraturan pemerintah, kelompok-kelompok tekanan publik, dan sebagainya.
Struktur organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya karena lingkungan selalu berubah. Beberapa organisasi menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak kekuatan di lingkungan mereka yang berubah. Misalnya, tidak muncul pesaing baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaing saat ini, atau tidak banyak aktivitas dari kelompok-kelompok tekanan publik yang mungkin memengaruhi organisasi. Organisasi-organisasi lain menghadapi lingkungan yang sangat dinamis -peraturan pemerintah cepat berubah dan memengaruhi bisnis mereka, pesaing baru, kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, preferensi pelanggan yang terus berubah terhadap produk, dan semacamnya. Secara signifikan, lingkungan yang statis memberi lebih sedikit ketidakpastian bagi para manajer dibanding lingkungan yang dinamis. Karena ketidakpastian adalah sebuah ancaman bagi keefektifan sebuah organisasi, manajemen akan menocba meminimalkannya. Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan adalah melalui penyesuaian struktur organisasi.
Pembagian kerja
Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike.
Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
Berikut ini ada beberapa dasar yang dapat dijadikan pedoman untuk mengadakan pembagian kerja. Pedoman-pedoman tersebut adalah:
  1. Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya wilayah timur, barat atau wilayah kecamatan, kabupaten dan lain sebagainya.
  2. Pembagian kerja atas dasar jenis benda yang diproduksi, misalnya pada komponen suatu kendaraan, bagian pemasangan jok mobil, pemasangan rem mobil dan lainnya.
  3. Pembagian kerja atas dasar langganan yang dilayani, misalnya adalah langganan secara individual atau kelompok, pemerintahan atau non pemerintahan dan sebagainya.
  4. Pembagian kerja atas dasar fungsi (rangkaian) kerja, misalnya bagian produksi, bagian gudang, bagian pengiriman dan lainnya.
  5. Pembagian kerja atas dasar waktu, misalnya shif kerja pagi, siang dan malam.
Dari hal tersebut diatas maka akan tergambar atau terlihat pembagian kerja di dalam suatu organisasi, yakni:
  • Jumlah unit organisasi yang ada akan disesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi tersebut.
  • Suatu unit organisasi ini harus mempunyai fungsi bulat dan berkaitan dengan yang lainnya.
  • Pembentukan unit baru hanya dilaksanakan bilamana unit yang ada sudah tidak tepat lagi untuk menampung kegiatan yang baru baik dari beban kerja maupun hubungan kerja.
  • Secara garis besar akan berpengaruh pada aktifitas dan sifat dari organisasi tersebut.

BADAN ORGANISASI













DEPARTEMENTALISASI

1.      Pengertian Departementalisasi

      
Departementalisasi adalah proses penentuan cara bagaimana kegiatan yang dikelompokkan. Beberapa bentuk departementalisasi sebagai berikut :
1. Fungsi
2. Produk atau jasa
3. Wilayah
4. Langganan
5. Proses atau peralatan
6. Waktu
7. Pelayanan
8. Alpa – numeral
9. Proyek atau matriks

2. Departementalisasi Fungsional

             
Departentalisasi fungsional mengelompokkan fungsi – fungsi yang sama atau kegiatan – kegiatan sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi.
Organisasi fungsional ini barangkali merupakan bentuk yang paling umum dan bentuk dasar departementalisasi. kebaikan utama pendekatan fungsional adalah bahwa pendekatan ini menjaga kekuasaan dan kedudukan fungsi- funsi utama, menciptakan efisiensi melalui spesialisasi, memusatkan keahlian organisasi dan memungkinkan pegawai manajemen kepuncak lebih ketat terhadap fungsi-fungsi.
pendekatan fungsional mempunyai berbagi kelemahan. struktur fungsional dapat menciptakan konflik antar fungsi-fungsi, menyebabkan kemacetan-kemacetan pelaksanaan tugas yang berurutan pada kepentingan tugas-tugasnya, dan menyebabkan para anggota berpandangan lebih sempit serta kurang inofatif.

3 .
Departementalisasi Divisional

             
Organisasi Divisional dapat mengikuti pembagian divisi-divisi atas dasar produk, wilayah (geografis), langganan, dan proses atau peralatan.
Struktur organisasi divisional atas dasar produk. setiap departemen bertanggung jawab atas suatu produk atau sekumpulan produk yang berhubungan (garis produk). Divisionalisasi produk adalah pola logika yang dapat diikuti bila jenis-jenis produk mempunyai teknologi pemrosesan dan metoda-metoda pemasaran yang sangat berbeda satu dengan yang lain dalam organisasi.
Sturktur organisasi divisional atas dasar wilayah. Departementalisasi wilayah , kadang-kadang juga disebut depertementalisasi daerah , regional atau geografis , adalah pengelompokkan kegiatan-kegiatan menurut tempat dimana operasi berlokasi atau dimana satuan-satuan organisasi menjalankan usahanya.Kebaikan-kebaikan struktur organisasi divisional dapat diperinci sebagai berikut :

1.  Meletakkan koordinasi dan wewenang yang diperlukan pada tingkat yang sesuai bagi pemberian tanggapan yang cepat.
2.  Menempatkan pengembangan dan implementasi strategi dekat dengan lingkungan divisi yang khas.
3.  Tempat latihan yang baik bagi para manager strategik.

Kelemahah-kelemahan sturktur divisional secara lebih terperinci :
1. Masalah duplikasi sumberdaya dan peralatan yang tidak perlu.
2. Dapat menimbulkan tidak konsistennya kebijakan antara divisi-divisi

            Perusahaan yang melakukan departentalisasi diuntungkan dengan pembagian control dan koordinasi pada perusahaan tersebut. Wilayah kekuasaan dan tanggung jawab dipersempit sehingga untuk memimpinnya menjadi lebih mudah
.

    Departementalisasi sendiri dibagi atas beberapa macam yaitu :

1.      Departementalisasi berdasarkan pelanggan
Maksudnya perusahaan akan melakukan pembagian penjualan produk ke pelanggan,biasanya ada yang bagian produk laki-laki ataupun perempuan atau tua dan muda. Contohnya adalah pembagian penjualan produk Rexona ada pembagian untuk produk remaja, laki-laki , perempuan ataupun yang xtra berkeringat. Dengan dilakukannya pembagian ini penjualan akan lebih tepat sasaran dan efisien
2.      Departementalisasi berdasarkan produk
Maksudnya perusahaan akan mengelompokan departemen sesuai dengan kelompok produk yang dihasilkan misalkannya pembagian departeman barang untuk mengurusi produksi produk berupa barang dan departemen jasa untuk menangani produk yang berupa jasa
3.      Departementalisasi berdasarkan proses                                                                                Maksudnya pembagian departemen berdasrkan proses pengkerjaannya, misalnya pada perusahaan meubel dibagi atas divisi untuk pengolahan kayu mentah, divisi pembuatan kursi atau meubel kemudian divisi pengecatan
4.   Departementalisasi berdasarkan geografis
Maksudnya pembagian departeman berdasarkan lokasi penjualan produk misalnya departemen yang mengawasi di jawa dan Bali, di Kalimantan maupun di Sumatara.
5.      Departementalisasi berdasarkan fungsi
Maksudnya pembagian departemann berdasarkan aktifitas perusahaan dalam menjalankan bisnisnya, misalnya departemen produksi, departemen penjualan, departemen pemasaran dan lain-lain
Setelah melakukan pembagian tugas, maka yang harus dilakukan adalah menetapkan hierarki pengambilan keputusan. Bagaimana dalam perusahaan perusahaan yang besar diperlukan cara penentuan pengambilaan keputusan karena tidak mungkin seorang presiden direktur melakukan pengambilan keputusan pada suatu masalah di cabang daerah. Oleh sebab itu maka dibentuklah tingkatan-tingkatan pada organisasi yang mana di tiap tingkatan tersebut terdapat seorang manajer yang dapat memberikan keputusan dan dapat bertanggung jawab kepada pemimpin di atasnya. Sehingga para menajer tersebut memiliki kewenagan untuk melakukan tugas atau misi yang direncanakan oleh organisasi atau perusahaan namun manajer tersebut juga boleh melakukan inovasi-inovasi agar divisi dipimpinnya dapat berkembang dengan syarat harus sesuia dengan misi perusahaan, misalnya BNI 46 mempunyai bebarapa manajer yang mengawasi divisinya. Ada yang mengurusi cabang provinsi maupun cabang-cabang pada kota maupun kabupaten setiap manajer di kota tersebut memiliki kekuasaan untuk memutuskan apabila ada masalah dalam cabang tersebut namun apabila masalah tersebut terlalu besar (berdasarkan survey yang saya lakukan waktu semester lalu) dapat dilaporkan ke pusat misalnya adalah peminjaman uang yang terlalu besar. Maka manajer cabang akan menghubungi kantor cabang provinsi atau pusat terlebih dahulu
Selain itu untuk melakukan pengorganisasian yang baik diperlukan komunikasi yang baik antar kantor cabang di adakan rapat antar kantor cabang yang membicarakan masalah-masalah yang ada pada tiap divisi maupun pada kantor cabang selain itu pada rapat ini sebagai tempat untuk memberiakan pengarahan ataupun misi kepada para manajer pimpinan cabang maupun divisi untuk dapat mengembangkan divisi atau cabangnya.