Laman

Selasa, 15 Mei 2012

Pengambilan Keputusan


  ARTI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengertian pengambilan keputusan memiliki berbagai macam pandangan dalam buku M.Iqbal Hasan (2004), antara lain :
1.      Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
2.      Menurut S.P. Siagian, pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakanyang paling tepat.
3.      Menurut James A.F Stoner, pengambilan keputusan adalah proses yangdigunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Sehingga pengertian pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindak lanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.
Menurut Johanes Supranto (1998), mengambil atau membuat keputusanberarti memilih satu di antara sekian banyak alternatif. Pada umumnya suatu keputusan dibuat dalam rangka untuk memecahkan permasalahan atau persoalan ( problem solving), setiap keputusan yang dibuat pasti ada tujuan yang akan dicapai. Inti dari pengambilan keputusan terletak dalam perumusan berbagai alternatif tindakan sesuai dengan apa yang sedang diperhatikan dan dalampemilihan alternatif yang tepat setelah suatu evaluasi (penilaian) mengenai efektifitasnya dalam mencapai tujuan yang dikehendaki pengambil keputusan. Salah satu komponen terpenting dari proses pengambilan keputusan ialah kegiatan pengumpulan informasi dimana suatu apresiasi mengenai situasi keputusan dapat dibuat. Apabila informasi yang cukup dikumpulkan guna memperoleh suatu spesifikasi yang lengkap dari semua alternatif dan tingkat keefektifitasannya dalam situasi yang sedang menjadi perhatian, proses pembuatan atau pengambilan keputusan relatif sangat mudah. Akan tetapi di dalam praktek sangat tidak mungkin untuk mengumpulkan informasi secara lengkap, mengingat keterbatasan dana, waktu, dan tenaga.
Suatu cara yang tepat untuk menentukan baik buruknya sesuatu keputusanadalah apakah keputusan tersebut membawa kepada sebuah keberhasilan. Sesuatu keputusan yang baik adalah suatu keputusan yang membawa kepada hari depan yang disenangi oleh pengambil keputusan, sedangkan suatu keputusan yang tidak baik adalah suatu keputusan yang membawa kepada hasil yang tidak menyenangkan. Tujuan dari peningkatan hasil keputusan sudah tentu merupakan alasan terakhir bagi pengembangan keterampilan untuk mengambil keputusan secara efektif. Keputusan yang sehat adalah keputusan yang diambil dengan sempurna, dengan mempertimbangkan sepenuhnya segala aspek yang relevan dari masalah. Pengambilan keputusan yang baik melaksanakan masing-masing dari langkah-langkah penting pengambilan keputusan efektif secara cermat dan lengkap. Kadang-kadang suatu keputusan yang sehat membawa kepada akibat-akibat yang tidak diinginkan. Mengambil keputusan harus meliputi pengambilanresiko yang telah diperhitungkan. Resiko yang telah diperhitungkan kadang-kadang menjadi kenyataan dan berakibat buruk (Manulang.1994).
Pembuatan keputusan adalah bagian kunci kegiatan manajer. Kegiatan ini memainkan peranan penting, terutama bila manajer melaksanakan fungsiperencanaan. Perencanaan menyangkut keputusan-keputusan sangat penting dan jangka panjang yang dapat dibuat manajer. Dalam proses perencanaan, manajermemutuskan tujuan-tujuan organisasi yang akan dicapai, sumber daya-sumberdaya yang akan digunakan, dan siapa yang akan melaksanakan setiap tugas yangdibutuhkan. Seluruh proses perencanaan itu melibatkan manajer dalam serangkaian situasi pembuatan keputusan. Kualitas keputusan-keputusan manajerakan menentukan efektivitas rencana yang disusun.(Handoko.2003)


TIPE-TIPE KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan ( Decision making) adalah tindakan manajemen dalam pemilihan alternative untuk mencapai sasaran .
Keputusan dibagi dalam 3 tipe :

1.Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yang berulang-ulang dan rutin, sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manjemen tingkat bawah. Contoh keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang,dll.

2.Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur : keputusan yang sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tdk terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan serta analisis yg terperinci. Contoh Keputusan membeli sistem komputer yg lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi.

3.Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yg tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting didalam pengambilan keputusan tdk terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain adalah contoh keputusan tdk terstruktur yg jarang terjadi
.




            Table 3.1 perbandingan antara berbagai tipe-tipe keputusan.

Keputusan terprogram
Keputusan tidak terprogram
Masalah
Sering,berulang,rutin, Ada kepastian mengenai hubungan sebab akibatnya
Tidak biasa, tidak tersturuktur, ada ketidakpastian mengenai hubungan sebab akibatnya
Prosedur
Bergantung pada kebijakan, aturan, dan prosedur yang pasti.
Perlunya kreativitas, intuisi, toleransi untuk ambiguitas, pemecahan masalah yang kreatif.
Contoh perusahaan bisnis
Pemesanan ulang persediaan secara periodic.
Diverifikasi dalam berbagai produk dan pasar yang baru.
universitas
Syarat rata-rata indeks prestasi untuk peringkat akademis yang baik.
Pembangunan fasilitas ruang kelas yang baru.
Perawatan kesehatan
Prosedur penerimaan pasien
Pembelian perlengkapan eksperimen
pemerintah
System kelayakan untuk kenaikan pangkat para pegawai negeri
Reorganisasi badan-badan pemerintahan.
Sumber: J. Gibson, J. Ivancevich, dan J. Donnelly Jr. . Organizations: Behavior, Structure, Processes, edisi 10



PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN
            Proses pengambilan keputusan yang ideal berlangsung melalui enam tahap. Pada perusahaan-perusahaan yang telah melembagakan proses ini, tahapan-tahapan ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: apa yang ingin kita ubah? Apa yang menghalangi kita untuk mencapai “kondisi yang dikehendaki”? bagaimana kita dapat membuat perubahan? Apa cara terbaik untuk melakukannya? Apakah kita sedang menjalankan rencana tersebut? Dan seberapa berhasilkah hal tersebut?
            Secara lebih formal, para pengambil keputusan sebaiknya (1) mengenali dan mendiagnosis masalah, (2) menghasilkan solusi-solusi alternative, (3) mengevaluasi berbagai alternative, (4) membuat suatu pilihan, (5) melaksanakan keputusan, dan (6) mengevaluasi keputusan tersebut.

1.    Mengenali dan Mendiagnosis Masalah
Tahap pertama dalam proses pengambilan keputusan adalah untuk mengenali bahwa sebuah masalah muncul dan perlu dipecahkan. Biasanya, seorang manajer menyadari adanya ketidaksesuaian antara kondisi sekarang (kenyataan) dan kondisi yang dikehendaki (yang seharusnya). Ketidaksesuaian-ketidaksesuaian seperti itu-misalnya, dalam kinerja organisasi atau unit-dapat diketahui dengan membandingkan kinerja sekarang dengan (1) kinerja masa lalu, (2) kinerja masa kini dari organisasi atau unit lain, atau (3) kinerja masa depan yang diharapkan seperti ditetapkan oleh berbagi rencana dan peramalan.
            Contohnya, seorang manajer penjualan mengetahui bahwa penjualan telah menurun drastic. Jika ia segera meninggalkan perusahaan atau meyakini bahwa penurunan jumlah penjualan itu berkaitan dengan perekonomian (ia tidak dapat melakukan apa pun mengenai itu), ia tidak akan bertindak. Akan tetapi, jika ia mencoba untuk memecahkan masalah itu, ia tidak seharusnya secara langsung menyalahkan staf penjualannya, menambah orang-orang baru, atau menambah biaya iklan. Ia perlu menganalisis mengapa penjualannya menurun, kemudian mengembangkan sebuah solusi yang tepat sesuai analisisnya.

2.    Menghasilkan Berbagai Solusi Alternatif
Tahapan kedua menghubungkan diagnosis masalah dengan pengembangan berbagai alternative tindakan, yang bertujuan untuk memecahkan masalahnya. Para manajer menghasilkan setidaknya beberapa solusi alternative berdasarkan berbagai pengalaman di masa lalu.
            Solusi-solusi terbagi menjadi solusi siap pakai (yang telah tersedia) sampai yang khusus (sengaja dibuat). Para pengambil keputusan yang mencari solusi siap pakai ( ready-made solutions) menggunakan ide-ide yang pernah mereka coba sebelumnya, atau mengikuti nasihat dari orang lain yang pernah menghadapi masalah serupa. Solusi khusus (customade solutions) di sisi lain, perlu di rancang untuk masalah-masalah khusus. Teknik ini sering kali menggabungkan ide-ide ke dalam solusi-solusi yang baru dan kreatif.

3.    Mengevaluasi Berbagai Alternatif
Tahapan ketiga mencakup menentukan nilai atau baik tidaknya alternative-alternatif yang dihasilkan. Jelas bahwa alternative-alternatif sebaiknya dievaluasi lebih hati-hati. Inti proses ini adalah untuk memprediksikan konsekuensi-konsekuensi yang akan muncul apabila berbagai pilihan diterapkan.
            Para manajer sebaiknya mempertimbangkan beberapa jenis konsekuensi. Tentu saja mereka perlu mencoba memprediksi pengaruh-pengaruhnya terhadap standar-standar keuangan atau kinerja lainnya. Namun, masih terdapat konsekuensi-konsekuensi lain, yang tidak begitu mudah dihadapi.

4.    Membuat Suatu Pilihan
Konsep-konsep penting di sini adalah memaksimalkan, memuaskan, dan mengoptimalkan.
Memaksimalkan adalah pengambilan keputusan terbaik yang paling mungkin. Keputusan “memaksimalkan” ini mewujudkan konsekuensi-konsekuensi positif terbesa dan konsekuensi-konsekuensi negative terkecil.
Memuaskan adalah memilih pilihan pertama yang secara minimal dapat diterima atau memadai. “memuaskan” kadang-kadang merupakan hasil dari kemalasan, di saat lain, tidak ada pilihan lain karena waktunya terbatas, informasi tidak tersedia, atau rintangan-rintangan lainnya yang membuat kita tidak mungkin “memaksimalkan”.
Mengoptimalkan berarti anda mencapai keseimbangan yang terbaik yang mungkin di antara beberapa sasaran. Ide yang sama di terapkan dalam mencapai sasaran-sasaran bisnis. Suatu strategi pemasaran dapat memaksimalkan penjualan, sementara suatu strategi yang berbeda mungkin dapat memaksimalkan keuntungan. Sebuah strategi “mengoptimalkan” adalah strategi yang mencapai keseimbangan terbaik di antara banyak sasarn.

5.    Melaksanakan Keputusan
Proses pengambilan keputusan tidak berhenti setelah suatu pilhan di buat. Alternative yang terpilih haruslah dilaksanakan. Kadang-kadang orang yang terlibat dalam membuat pilihan harus menerapkannya dalam tindakan.
Mereka yang melaksanakan keputusan perlu memahami pilihan tersebut dan mengapa pilihan tersebut di buat. Mereka juga harus berkomitmen untuk kesuksesan dari pelaksanaannya. Kebutuhan-kebutuhan ini dapat dicapai dengan melibatkan orang-orang dalam tahap-tahap awal dari proses keputusan.
Para manajer perlu merencanakan pelaksanaan secara hati-hati. Perencanaan yang memadai memerlukan beberapa langkah:
1.      Menentukan bagaimana berbagai hal akan terjadi ketika keputusan dijalankan sepenuhnya.
2.      Mengurutkan secara kronologis, mungkin dengan diagram alir, langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai sebuah keputusan yang bersifat opersional sepenuhnya.
3.      Membuat daftar dari berbagai sumber daya dan aktivitas yang diperlukan untuk menerapkan setiap langkahnya.
4.      Memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk setiap langkahnya.
5.      Memberikan tanggung jawab untuk setiap langkah kepada individu-individu tertentu.

Para pengambil keputusan perlu mengasumsikan bahwa hal-hal tidak akan berjalan mulus selama pelaksanaannya. Sangat berguna untuk menggunakan waktu tambahan untuk mengenali masalah-masalah yang mungkin timbul dan mengenali peluang-peluang yang mungkin datang.

6.    Mengevaluasi Keputusan
Tahap akhir dari proses pengambilan keputusan adalah mengevaluasi keputusan. Hal ini berarti mengumpulkan informasi tentang seberapa baiknya keputusan itu berhasil.
            Evaluasi keputusan bermanfaat ketika kesimpulannya adalah positif atau negative. Umpan balik yang menyatakan keputusan itu berhasil menandakan bahwa keputusan itu perlu dilanjutkan dan mungkin diterapkan di bagian lain dalam organisasi. Umpan balik negative dapat berarti: (1) pelaksanaanya memerlukan lebih banyak waktu,sumber daya, tenaga, atau pemikiran, atau (2) keputusan itu buruk.

KETERLIBATAN BAWAHAN DALAM PEMBUATAN KEPUTUSAN
Para manejer akan sulit untuk membuat keputusan tanpa melibatkan bawahan, keterlibatan ini dapat formal, seperti pengunaan kelompok dalam pembuatan keputusan, atau informal, seperti permintaan akan gagasan.
  1. 1. Pembuatan Keputusan Kelompok
Banyak manajer merasa bahwa keputusan yang dibuat secara kelompok, seperti panitia lebih efektif karena mereka memaksimumkan pengetahuan lain. Berbagai kebaikan dan kelemahan pembuatan keputusan secara kelompok
Kebaikan
Kelemahan
  1. Dalam pengembangan tujuan, kelompok memberikan jumlah pengetahhuan yang lebih besar.
  2. Dalam pengembangan alterna-tif, usaha individual para anggota kelompok dapat memungkinkan pencarian lebih luas dalam berbagai bidang fungsional organisasi.
  3. Dalam penilaian alternatif, kelompok mempunyai kerangka pandangan yang lebih lebar.
  4. Dalam pemilihan alternatif kelompok lebih dapat meneri-ma risiko disbanding pembuat keputusan individual.
  5. Karena berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan, para anggota kelompok secara individudal lebih termotivasi untuk melaksanakan keputus-an.
  6. Kreativitas yang lebih besar dihasilkan dari interaksi antar individu dengan berbagai pandangan yang berbeda- beda.
  7. Implementasi suatu keputusan apakah dibuat oleh kelompok atau tidak, haru diselesaikan oleh para manejersecara individual. Karena kelompok tidak diberikan tanggung jawab, keputusan kelompok dapat menghasilkan situasi dimana tidak seorangpun merasa bertanggung jawab dan saling melempar tanggung jawab.
  8. Berdasarkan pertimbangan nilai dari waktu sebagai salah satu sumber daya organisasi, keputusan kelompok sangant memakan biaya.
  9. Pembuatan keputusan kelompok adalah tidak efesien bila keputusan harus dibuat dengan cepat.
  10. Keputusan kelompok, dalam berbagai kasus, dapat merupakan hasil kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok.
  11. Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan keputusan kelompok.
 1. Implementasi suatu keputusan apakah dibuat oleh kelompok atau tidak, haru diselesaikan oleh para manejersecara individual. Karena kelompok tidak diberikan tanggung jawab, keputusan kelompok dapat menghasilkan situasi dimana tidak seorangpun merasa bertanggung jawab dan saling melempar tanggung jawab.
  1. Berdasarkan pertimbangan nilai dari waktu sebagai salah satu sumber daya organisasi, keputusan kelompok sangant memakan biaya.
  2. Pembuatan keputusan kelompok adalah tidak efesien bila keputusan harus dibuat dengan cepat.
  3. Keputusan kelompok, dalam berbagai kasus, dapat merupakan hasil kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok.
5. Bila atasan terlilbat, atau salah satu anggota mempunyai kepribadian yang dominan, keputusan yang dibuat kelompok dalam kenyataannya bukan



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar